Senin, 28 September 2015

Tuli  pembawa kaberhasilan
        Di sebuah desa, terdapat pemuda yang bernama,”Syarifullah”.Ia hidup dengan keluarganya yang penuh kasih sayang. Ia di sekolahkan di sebuah pondok pesantren yang penuh dengan pendidikan islamiah. Ia menempuh pendidikan di pondok pesantren tersebut dengan rasa sungguh-sungguh dan sabar. Seiring waktu berjalan, akhirnya sampailah syarif ke jenjang pendidikan yang menengah akhir [ SMA ].
        Dengan jenjang yang lebih tinggi ini, syarif pun lebih meningkatkan rasa gairah nya dalam belajar. Di Akhir-akhir semester genap, syarif berangan-angan ingin melanjutkan sekolanya  [ kuliah ]ke mesir. Dengan angan-ngannya yang begitu besar, ia pun meningkatkan rasa gairahnya dalam menuntut ilmu di pesantrennya . Dalam kesehariannya ia mengerjakan pekerjaan yangt bermanfaat. Tak sedikit pun waktu ia biarkan berlalu begitu saja.
         Seiring waktu berjalan, akhirnya Syarif pun menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantrennya. Akan tetapi, ia tidak langsung melepaskan tanggung jawabnya pada pondok. Dengan rasa terima kasihnya kepada pondok, ia pun mengabdikan dirinya untuk mengajar di pondok pesantrennya. Lama sudah ia mengabdikan dirinya pada pondok, tiba-tiba terdengar olehnya kabar gembira.
        Kabar yang di tunggu-tunggu sejak dulu, kabar tes untuk biaya siswa ke mesir. Karena merasa gembira, seketika bulu tengkuknya berdiri dengan serentak dan darahnya mengalir semakin cepat. Dengan segera Syarif melakukan sujud syukur kepada Allah, atas kabar gembira itu. Keesokan harinya, ia memberi tahu kepada kedua orang tuanya tentang kabar tersebut. Dengan tersenyum lebar, ibunya langsung memeluk anaknya yang mempunyai anak yang seperti itu.
          Dengan merasa senang, ibunya pun meridhoi anaknya untuk mengikuti tes ke kairo. Tersebarlah kabar, bahwa Syarif ingin mengikuti tes untuk berkuliah ke mesir ke telinga tetangganya. Setiap hari Syarif mendengar ocehan/hasutan dari para tetanggany. Terdengarlah ocehan itu ke telinganya,” alah mana mungkin si Syarif bisa lulus tes, sedangkan dia bukan sebegitu pintar.”
           Mendengar ocehan itu, Syarif mengngelu dadanya dan mengucapkan istighfar. Suatu malam di waktu ia melakukan shalat tahajjud, ia memanjatkan doa kepada Allah.” Ya Allah engkaulah yang maha mengetahui, engkaulah yang mehe bijaksana. Ya Allah berikanlah kepada ku kekurangan pada telingaku yitu tuli dalam pendengaranku, agar hamba tidak bisa lgi mendengarkan ocehan-ocehan dari para tetanggaku. Jika itu memang yang terbaik untukku maka berikanlah kepadaku.”
     Setelah ia melakukan shalat, ia langsun membuka buku pelajarannya. Seketika ia tertidur pulas sampai matahari terbit. Alaram jam pun berbunyi dengan keras. Akan tetapi Syarif sama sekali tidak terganggu dengan bunyi yang begitu keras, Ia sangat berbeda dari sebelumnya. Mendengar alaram yang berbunyi keras, ibunya merasa heran dengan keadaan Syarif yang sekarang. Ibi Syarif pun melangkah menuju kamar syari.
  
       Seketika ibu Syarif terkejut melihat anaknya yang mesih di selibungi selimut. Dengan segera ibunya menggoyang-goyangkan tubuh anaknya yang mungil. Tak lama kemudian, Syarif pun terbangun. Ibunya pun berkata.” Ayo cepatan sana cuci mukanya dan langsung makan.” Syarif tidak mendenengar sama sekali perkataan ibunya. Karena merasa kebingungan, Syarif langsung menyingkirkan selimut yang masih menutupi tubuhnya, dan langsung melangkah menuju kamar mandi.

        Setelah mekan pagi, Syarif berjalan-jalan ke sekeliling gang rumahnya. Ada yang berbeda dengan hari ini. Ia tidak lagi mendengar ocehan-ocehan yang di lontarkan oleh tetangganya. Dengan rasa syukur yang sangat besar kepada Allah atasa doa-doa yang ia panjatkan telah di kabulkan Allah. Akhirnya Syarif merasa senang karena tidak lagi mendengarkan ocehan-ocehan orang lain terhadapnya.

        “ Seandainya Allah tidak mengabulkan doaku pasti aku akan terpengaruh dengan kata-kata orang lain.” Syarif berkata  dalam hati. Waktu penyeleksian pun tiba.Dengan membaca basmalah Syarif memasuki ruang tes. Syarif pun mulai mencoret-coret lembar jawabannya. Selesailah Syarif mengerjakan soal-soal yang di berikan. Ia pun keluar dari  ruangan tes dengan membaca hamdalah.

          Syarif pun pulang ke rumahnya dengan rasa lega, karena menyelesaikan lembaran soal yang di berikan ia kerjakan dengan baik. Dengan rasa tidak tenang, Syarif menunggu pengumuman kelulusan.  Selagi menunggu pengumuman kelulusan, Syarif mengisi waktu kesehariannya dengan mengajar mengaji di mesjid dekat rumahnya.

          Waktu pengumuman pun tiba. Dengan hati gelisah, Syarif melangkahkan kakinya menuju tempat pengumuman yang sedikit jauh dari rumahnya. Tibalah Syarif di tempat yang di tuju. Darah Syarif mengalir semakin kencang, dan detuk jantungnya semakin kuat. Mulailah panitia memanggil nama-nama peserta yang lulus mengikuti tes ujian. Sudah sekian lama ia menunggu  panggilan atas namanya , namun tidak terpanggil juga.

          Syarif sempat berburuk sangka, bahwa ia tidak akan lulus tes. Akan tetapi Syarif membuang jauh-jauh perasaannya itu.  Tibalah panitia memanggil nama yang paling akhir ,”Syarifullah.” Dengan setengah menjerit panitia memanggila namanya. Mendengar nama itu, Syarif langsung menjatuhkan tubuhnya dan melakukan sujud syukur tanda terima kasihnya kepada Allah. Dengan rasa bangga dan senang, Syarif melangkah pulang menuju rumahnya.

         Sesampainya di rumah, Syarif langsung mengabarkan kejaidan tadi kepada ibunya. Mendengar berita itu, ibu Syarif langsung tersenyum lebar karena merasa bangga mempunyai anak yang mempunyai kesungguhan. Singkat cerita, Syarif pun berangkat pergi kemesir. Dengan penuh kesungguhan Syarif menuntut ilmu di Mesir. Sekian lama Syarif menuntut ilmi di mesir, akhirnya ia pun pulang ke rumahnya dengan membawa hasil yang memuaskan. Dan ia menjadi seorang yang terhormat dan di segani.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar