Tuli pembawa kaberhasilan
Di sebuah desa, terdapat pemuda yang
bernama,”Syarifullah”.Ia hidup dengan keluarganya yang penuh kasih sayang. Ia
di sekolahkan di sebuah pondok pesantren yang penuh dengan pendidikan islamiah.
Ia menempuh pendidikan di pondok pesantren tersebut dengan rasa sungguh-sungguh
dan sabar. Seiring waktu berjalan, akhirnya sampailah syarif ke jenjang
pendidikan yang menengah akhir [ SMA ].
Dengan jenjang yang lebih tinggi ini,
syarif pun lebih meningkatkan rasa gairah nya dalam belajar. Di Akhir-akhir
semester genap, syarif berangan-angan ingin melanjutkan sekolanya [ kuliah ]ke mesir. Dengan angan-ngannya yang
begitu besar, ia pun meningkatkan rasa gairahnya dalam menuntut ilmu di
pesantrennya . Dalam kesehariannya ia mengerjakan pekerjaan yangt bermanfaat.
Tak sedikit pun waktu ia biarkan berlalu begitu saja.
Seiring waktu berjalan, akhirnya
Syarif pun menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantrennya. Akan tetapi, ia
tidak langsung melepaskan tanggung jawabnya pada pondok. Dengan rasa terima
kasihnya kepada pondok, ia pun mengabdikan dirinya untuk mengajar di pondok
pesantrennya. Lama sudah ia mengabdikan dirinya pada pondok, tiba-tiba
terdengar olehnya kabar gembira.
Kabar yang di tunggu-tunggu sejak dulu,
kabar tes untuk biaya siswa ke mesir. Karena merasa gembira, seketika bulu
tengkuknya berdiri dengan serentak dan darahnya mengalir semakin cepat. Dengan
segera Syarif melakukan sujud syukur kepada Allah, atas kabar gembira itu.
Keesokan harinya, ia memberi tahu kepada kedua orang tuanya tentang kabar
tersebut. Dengan tersenyum lebar, ibunya langsung memeluk anaknya yang
mempunyai anak yang seperti itu.
Dengan merasa senang, ibunya pun
meridhoi anaknya untuk mengikuti tes ke kairo. Tersebarlah kabar, bahwa Syarif
ingin mengikuti tes untuk berkuliah ke mesir ke telinga tetangganya. Setiap
hari Syarif mendengar ocehan/hasutan dari para tetanggany. Terdengarlah ocehan
itu ke telinganya,” alah mana mungkin si Syarif bisa lulus tes, sedangkan dia
bukan sebegitu pintar.”
Mendengar ocehan itu, Syarif mengngelu dadanya dan mengucapkan
istighfar. Suatu malam di waktu ia melakukan shalat tahajjud, ia memanjatkan
doa kepada Allah.” Ya Allah engkaulah yang maha mengetahui, engkaulah yang
mehe bijaksana. Ya Allah berikanlah kepada ku kekurangan pada telingaku yitu
tuli dalam pendengaranku, agar hamba tidak bisa lgi mendengarkan ocehan-ocehan
dari para tetanggaku. Jika itu memang yang terbaik untukku maka berikanlah
kepadaku.”
Setelah ia melakukan shalat, ia langsun membuka
buku pelajarannya. Seketika ia tertidur pulas sampai matahari terbit. Alaram
jam pun berbunyi dengan keras. Akan tetapi Syarif sama sekali tidak terganggu
dengan bunyi yang begitu keras, Ia sangat berbeda dari sebelumnya. Mendengar
alaram yang berbunyi keras, ibunya merasa heran dengan keadaan Syarif yang
sekarang. Ibi Syarif pun melangkah menuju kamar syari.
Seketika ibu Syarif terkejut melihat
anaknya yang mesih di selibungi selimut. Dengan segera ibunya
menggoyang-goyangkan tubuh anaknya yang mungil. Tak lama kemudian, Syarif pun
terbangun. Ibunya pun berkata.” Ayo cepatan sana cuci mukanya dan langsung
makan.” Syarif tidak mendenengar sama sekali perkataan ibunya. Karena merasa
kebingungan, Syarif langsung menyingkirkan selimut yang masih menutupi
tubuhnya, dan langsung melangkah menuju kamar mandi.
Setelah mekan pagi, Syarif
berjalan-jalan ke sekeliling gang rumahnya. Ada yang berbeda dengan hari ini.
Ia tidak lagi mendengar ocehan-ocehan yang di lontarkan oleh tetangganya. Dengan
rasa syukur yang sangat besar kepada Allah atasa doa-doa yang ia panjatkan
telah di kabulkan Allah. Akhirnya Syarif merasa senang karena tidak lagi
mendengarkan ocehan-ocehan orang lain terhadapnya.
“ Seandainya Allah tidak mengabulkan
doaku pasti aku akan terpengaruh dengan kata-kata orang lain.” Syarif
berkata dalam hati. Waktu penyeleksian
pun tiba.Dengan membaca basmalah Syarif memasuki ruang tes. Syarif pun mulai
mencoret-coret lembar jawabannya. Selesailah Syarif mengerjakan soal-soal yang
di berikan. Ia pun keluar dari ruangan
tes dengan membaca hamdalah.
Syarif pun pulang ke rumahnya dengan
rasa lega, karena menyelesaikan lembaran soal yang di berikan ia kerjakan
dengan baik. Dengan rasa tidak tenang, Syarif menunggu pengumuman
kelulusan. Selagi menunggu pengumuman
kelulusan, Syarif mengisi waktu kesehariannya dengan mengajar mengaji di mesjid
dekat rumahnya.
Waktu pengumuman pun tiba. Dengan
hati gelisah, Syarif melangkahkan kakinya menuju tempat pengumuman yang sedikit
jauh dari rumahnya. Tibalah Syarif di tempat yang di tuju. Darah Syarif
mengalir semakin kencang, dan detuk jantungnya semakin kuat. Mulailah panitia
memanggil nama-nama peserta yang lulus mengikuti tes ujian. Sudah sekian lama
ia menunggu panggilan atas namanya ,
namun tidak terpanggil juga.
Syarif sempat berburuk sangka, bahwa
ia tidak akan lulus tes. Akan tetapi Syarif membuang jauh-jauh perasaannya
itu. Tibalah panitia memanggil nama yang
paling akhir ,”Syarifullah.” Dengan setengah menjerit panitia memanggila
namanya. Mendengar nama itu, Syarif langsung menjatuhkan tubuhnya dan melakukan
sujud syukur tanda terima kasihnya kepada Allah. Dengan rasa bangga dan senang,
Syarif melangkah pulang menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah, Syarif langsung
mengabarkan kejaidan tadi kepada ibunya. Mendengar berita itu, ibu Syarif
langsung tersenyum lebar karena merasa bangga mempunyai anak yang mempunyai
kesungguhan. Singkat cerita, Syarif pun berangkat pergi kemesir. Dengan penuh
kesungguhan Syarif menuntut ilmu di Mesir. Sekian lama Syarif menuntut ilmi di
mesir, akhirnya ia pun pulang ke rumahnya dengan membawa hasil yang memuaskan.
Dan ia menjadi seorang yang terhormat dan di segani.